Penegakan Syariat Islam Melalui Pendidikan Berkarakter

mahmudiUmat manusia termasuk umat Islam sekarang ini dihadapkan pada krisis multi dimensi, yang ditandai dengan meningkatkan kemiskinan, kebodohan, kedzaliman, penindasan, ketidakadilan, dekadensi moral dan tidak kriminalitas. Hal itulah yang membuat bertambahnya kerusakan kehidupan dunia ini. Semua ini ditimbulkanoleh ulah manusia itu sendiri, sebagaimana difirmankan Allah dalam Al Qur’an Surah Ar Rum ayat 41.

”Telah nyata kerusakan didaratan dan di lautan oleh karena tangan-tangan manusia.”

Kerusakan diakibatkan oleh ulah manusia yang menganut pola kehidupan memisahkan agama dari kehidupan manusia yang bersifat sekularistik. Tata kehidupan sekularistik inilah yang menimbulkan berbagai krisis seperti krisis ekonomi kapitalislistik, perilaku politik oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang dualistik dan egalistik, sikap beragama yang sincretistik, dan paradigma pendidikan yang materialistik.

Problem tersebut memerlukan suatu solusi (penyelesaian). Penyelesaian terhadap masalah di atas tidak bisa dilakukan secara parsial (setiap aspek kehidupan), tetapi harus menyeleruh. Sebuah solusi yang paradigmatik dan integralistik. Solusi paradigmatik menyangkut pola pikir dan teoritik yang yang banyak menyangkut penataan sistem. Salah satunya dilakukan dengan aqidah yang lurus dan penegakan syariat Islam.

Penegakan syariat Islam dalam berbagai kehidupan umat manusia baik dalam tata kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan. Tata kehidupan ini dilaksanakan dalam kehidupan individual, keluarga, sosial kemasyarakatan. Penegakan aqidah dan penegakan syariat diimplementasikan dalam perilaku akhlakul karimah

Upaya tersebut di atas dilakukan melalui pendidikan yang berkarakter. Karena pendidikan hakikatnya adalah membangun karakter umat. Pendidikan yang berkarakter adalah, selalu berbasis aqidah yang terimplementasikan dalam penegakan syariat dan diwujudkan dalam akhlakul karimah.

Pendidikan yang berkarakter Islam pada hakikatnya adalah islamisasi, baik secara internal maupun eksternal. Islamisasi secara internal berarti menyangkut kualitas keislaman uat Islam itu sendiri. Islamisasi secara eksternal berarti mengislamkan orang yang belum Islam. Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan dan mengembangkan harkat dan martabat kemanusian. Harkat dan martabat kemanusiaan menyadarkan posisi manusia sebagai hamba allah dan khalifah di dunia.

Hakikat inilah yang menanamkan kepada setiap muslim untuk berkewajiban dan bertanggungjawab transfomasi aqidah, syariat, akhlaqul karimah dan ilmu pengetahuan dan teknologi, dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Transformasi tersebut dilaksanakan orang tua dan wakil dari umat Islam dan pemerintah sebagai institusi yang bergerak adalah keluarga secara sinergi dan berkolaborasi secara integral.

Wujud dan tanggungjawab ini, pendidikan diselenggarakan oleh sekolah maupun luar sekolah. Pendidikan luar sekolah dapat dilakukan didalam keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan yang berlangsung dengan sistem pendidikan Islam. Sistem pendidikan Islam merupakan suatu satu kesatuan dari komponen landasan berbasis Al Qur’an dan Al Hadits. Tujuan mengintergrasikan antara aqliyah (intelektual), jismiah, fisik (skill profesional) dan ruhiyah (spritual), pendidikan ilmu agama dan umum, serta keterampilan. Ini semua dilakukan secara integral menggunakan multi metode dan media serta evaluasi secara internal dan eksternal.

Kelima komponen tersebut saling berinteraksi, relasi, defensi dan influensi dalam satu kesatuan yang utuh. Implementasi dari sistem tersebut melalui suatu proses. Proses merupakan perubahan input menjadi output yang dipengaruhi oleh intromental dan enviromental. Intromental meliputi kurikulum, manajemen , proses belajar mengajar, sarana dan prasarana dan evaluasi. Sedang enviromental meliputi lingkungan alam dan sosial.

Output yang diharapkan adalah manusia yang aqidah yang kuat, mampu menegakan syariat, memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi serta akhlaqul karimah, secara individual menjadi insan kamil dan secara kelompok menjadi khaira ummah atau umat yang baik. (*)

*)Oleh : Drs Mahmudi Ketua Bidang Pendidikan YMM

Tinggalkan Balasan